Lanjutkan Perjuangan Pahlawan Dengan Cinta Rupiah
Ada apa dengan Indonesia 16 tahun lalu? Judul artikel di laman Bloomberg yang terbit Senin (15/12) membuat pembacanya memutar memori ke 1998. Judul artikel itu, "Indonesia Rupiah Sink to 16-Year Low as Bonds Slide on Outflows", menjelaskan kinerja melempem rupiah beberapa bulan terakhir.
Apa yang sebenarnya terjadi pada 15 Desember 1998? Dalam konteks nilai tukar rupiah, Republika mencatat pada periode yang sama 16 tahun lalu justru rupiah relatif stabil di Rp 7.480 per dolar AS. Peristiwa ekonomi terheboh ketika itu adalah perumusan kebijakan rekapitalisasi perbankan nasional. Pemerintah memutuskan kucuran dana Rp 293 triliun untuk rekapitalisasi bank-bank yang ambruk (Republika, 10 Desember 1998).
Pascakejatuhan rezim Orde Baru dan Presiden Soeharto, naiknya BJ Habibie sempat membawa angin segar untuk rupiah. Bahkan, Habibie sempat menyeret rupiah ke level Rp 6.000-an per dolar AS sebelum akhirnya melemah kembali.
Koran ini mencatat, sehari sebelum penembakan mahasiswa Universitas Trisakti (13 Mei 1998), rupiah berada di level Rp 9.500. Lalu terjadilah kerusuhan, pembakaran, penjarahan, dan kekacauan itu. Rupiah langsung ambrol menjadi Rp 10 ribu per dolar AS. Sehari setelah itu, rupiah terjengkang Rp 1.000 menjadi Rp 11 ribu. Ketika itu aktivitas ekonomi nyaris berhenti total. Bank tutup. Nasabah menarik uang dari kasir bank dan mesin ATM.
Puncaknya 19 Mei, dua hari sebelum Soeharto mundur. Krisis kepemimpinan, sosial, moneter, dan ekonomi membuat Indonesia seperti pasien yang nyaris "lewat". Rupiah terjerembab ke level Rp 16.100 per dolar AS, salah satu level terendahnya.
Kita masih ingat ketika itu muncul Gerakan Cinta Rupiah. Para pejabat ramai-ramai menukar dolar AS simpanannya ke rupiah. Bahkan, artis cilik Cindy Cenora pun berdendang disko "Aku Cinta Rupiah". "Aku cinta rupiah, biar dolar di mana-mana. Aku suka rupiah karena aku anak Indonesia. Aku cinta rupiah, biar dolar merajalela. Aku suka rupiah karena ku tinggal di Indonesia."
Setelah Soeharto lengser, kurs rupiah beringsut menguat. Hari kedua Presiden Habibie berkuasa, rupiah sudah di Rp 12.750. Di pekan terakhir Mei, rupiah bertengger di Rp 12.100-12.600 per dolar AS. Gejolak internasional, politik, sosial, dan ekonomi memengaruhi kurs rupiah pada 1998.
Lalu bagaimana pemerintah dan BI menjelaskan fenomena akhir 2014 ini? Tanpa gejolak politik dan sosial signifikan, serta roda ekonomi berjalan di bawah Kabinet Kerja yang diisi para tokoh, mengapa pemerintah dan BI terkesan tak kuat mengawal rupiah? Faktor gejolak ekonomi internasional dijadikan kambing hitam.
Tentu ini bukan urusan pemerintah saja, tetapi ada peran perdagangan internasional di situ. Ada pebisnis ekspor impor yang berkepentingan. Pertanyaannya, apakah para pebisnis Indonesia sudah berpartisipasi menjaga rupiah? Bukankah gonjang-ganjing nilai tukar akan membuat mereka kesulitan membuat rancangan bisnis 2015?
Laporan BI memperlihatkan, pada tahun ini utang luar negeri swasta sebesar 70,4 miliar dolar AS. Jatuh tempo utang terjadi pada pertengahan tahun dan akhir tahun. Namun, BI menggarisbawahi bagaimana pebisnis Indonesia melindung nilai valuta asing (forex hedging) sebagai sarana membayar utangnya itu. Hanya 13,6 persen, menurut responden BI, yang menggunakan sarana lindung nilai ini.
Misalnya, ada 64 debitur dengan pendapatan valuta asing dan nonafiliasinya sebesar 37,5 miliar dolar AS, tetapi nilai valas yang dilindungi hanya 2,1 miliar dolar. Ketika rupiah jebol, bisa kita bayangkan horornya pebisnis mencari dolar murah di pasaran.
Kita berharap pemerintah dan BI mampu menjaga rupiah dan mengembalikan ke posisi yang terbaik dan stabil. Kita juga berharap pemerintah dan BI mampu menegakkan wibawa otoritas mereka di muka rupiah. Harapan yang sama harus kita nyatakan kepada kelompok pengusaha yang sehari-hari berkutat dengan rupiah dan dolar.
Pameo pasar modal memang mengatakan, uang tidak mengenal negara dan nasionalisme. Namun, di pengujung tahun ini kita harus berharap pemerintah, BI, pengusaha, dan kita semua sama-sama mencintai rupiah. Cinta saja tidak cukup, harus ada gerakan riil dengan hasil yang terukur.
Untuk itu, kamu pun akan menunjukkan hal itu dalam sebuah tindakan nyata. Misalnya kamu akan memiliki sikap rela berkorban, melindungi dan mengayominya dengan setulus hati serta berusaha memberikan yang terbaik.
Nah, bagaimana pula kalau seseorang itu kita ganti dengan sesuatu. Misalnya kita ganti dengan rupiah. Apakah kamu mencintai rupiah, mata uang negara kita? Selanjutnya, bagaimana kamu menunjukkan rasa cintamu terhadap rupiah tersebut?
Sebenarnya banyak tindakan yang bisa kita lakukan sebagai wujud cinta rupiah.
Tentu analogi dari mencintai seseorang yang sudah disinggung di atas, bisa juga kita gunakan dalam hal cinta rupiah. Kalau dalam mencintai seseorang kita bisa tunjukkan dengan cara melindungi dan mengayomi yang kita cintai, maka dalam mencintai rupiah juga demikian halnya. Kita bisa tunjukkan dengan cara kita menghargai dan menyimpan rupiah.
Beruntungnya diriku sore ini, setelah selesai bekerja, ketika saya membuka smartphone, saya langsung menemukan sebuah tips berharga pada sebuah caption instagram dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Ternyata untuk menunjukkan cinta rupiah tersebut bisa kita lakukan dengan cara -cara berikut. Misalnya, tidak melipat uang yang kita miliki apalagi meremas-remasnya, tidak disteples, tidak dicoret-coret, tidak memegang uang ketika tangan masih basah.
Bagaimana? Kira-kira pernah melakukan tindakan-tindakan tersebut?
Jika kita mau menunjukkan cinta kita pada rupiah, stop! Berhentilah merusak uang yang ada ditangan kita. Terutama untuk uang nominal yang lebih kecil. Misalnya uang ribuan, rasanya kita sering memperlakukannya kurang adil. Kita sering sembarangan memperlakukannya, rasanya kurang menghargainya. Padahal uang dengan nominal yang lebih kecil dan nominal yang lebih besar, sama-sama rupiah toh?
Ngomong-ngomong, kalau kita sudah terlanjur memiliki kebiasaan kurang menghargai uang secara fisiknya. Ada cara merubah kebiasaan tersebut kog. Mau tahu?
Sejak 14 Agustus 2014, pemerintah, dalam hal ini pihak Bank Indonesia (BI) telah memperkenalkan sebuah gerakan yang kita kenal dengan Gerakan Nasional Nontunai (GNNT). Gerakan ini tentu akan membantu juga orang yang teledor dalam memperlakukan uang tunai. Dengan begitu kebiasaan untuk melipat atau meremas uang bisa terhindarkan.
Sebenarnya banyak orang menyalah artikan GNNT tersebut. Padahal gerakan tersebut adalah bagian dari cinta rupiah. Disamping yang sudah saya sebutkan di atas, ternyata melalui GNNT tersebut kita sedang diajarkan untuk menghargai uang sekecil apapun.
Mungkin dengan uang tunai, kita terkadang kesulitan untuk menerima kembalian, ujung-ujungnya kita di kasih permen lah. Padahal dengan menggunakan pembayaran non tunai, tentu hal-hal yang demikian bisa kita hindari. Kita tidak akan menjadi korban dari sebuah transaksi uang tunai.
Sebagai bagian dari warga negara Indonesia, tentu cinta rupiah adalah bagian dari nasionalisme. Sebab rupiah itu adalah salah satu identitas bangsa kita. Artinya rasa nasionalisme itu bisa kita tunjukkan dengan hal-hal yang kecil yang demikian, tapi mendasar.
Bila bicara tentang nasionalisme, maka kita bisa kembali merekonstruksi sejarah, sebanarnya mengapa rupiah itu harus ada?
Bagi yang pernah duduk dibangku sekolah Sekolah Menengah Atas (SMA), tentu pernah belajar asal mula lahirnya rupiah. Hal itu tidak terlepas dengan banyaknya mata uang asing yang beredar di Indonesia pada awal kemerdekaan. Mulai dari mata uang Jepang, NICA dan yang lainnya. Maka untuk menyelamatkan inflasi yang semakin menjadi-jadi, maka pemerintah pun mengeluarkan rupiah (baca : Oeang Republik Indonesia atau ORI). Berharap inflasi segera cepat teratasi.
Kalau begitu, jika pendahulu kita telah berusaha menyelamatkan perekonomian bangsa dengan kehadiran ORI, maukah kita melanjutkan perjuangan mereka dengan cinta rupiah?
